
Dua siswa bisa sama-sama bertipe Sosial, tetapi bentuk profil minatnya berbeda. Studi Anvesana pada 2.869 pelajar melihat bedanya menurut gender dan jenjang.
Dua hasil tes, satu huruf yang sama
Bayangkan dua siswa kelas XI menerima hasil tes minat. Keduanya mendapat label yang sama: minat teratasnya Sosial. Sekilas, saran untuk mereka pun bisa sama, misalnya jurusan yang banyak berurusan dengan orang.
Tapi coba lihat grafiknya. Pada siswa pertama, skor Sosial menjulang jauh di atas minat lainnya. Pada siswa kedua, skor Sosial memang paling tinggi, tetapi hanya unggul tipis, dan keenam minatnya hampir sejajar. Huruf teratasnya sama, bentuk profilnya sangat berbeda.
Dalam model RIASEC dari Holland, minat dibagi ke enam tipe: Realistik, Investigatif, Artistik, Sosial, Enterprising, dan Konvensional. Seberapa jelas minat teratas seseorang menonjol dari minat lainnya disebut diferensiasi minat (vocational interest differentiation). Profil yang memuncak tajam berarti diferensiasinya tinggi. Profil yang hampir rata, yang sering disebut praktisi sebagai profil "flat", berarti diferensiasinya rendah.
Berangkat dari profil datar di ruang konseling
Profil datar bukan hal langka bagi praktisi asesmen minat, dan ia menyisakan masalah praktis. Banyak saran jurusan dan pekerjaan bertumpu pada tiga kode minat teratas. Ketika jarak antarskor tipis, urutan tiga teratas itu mudah bergeser dan sulit dijadikan pegangan. Penelitian sebelumnya mengisyaratkan bahwa diferensiasi bisa berbeda menurut jenjang sekolah dan gender, tetapi bukti yang melihat keduanya sekaligus pada pelajar Indonesia masih terbatas.
Tim peneliti Anvesana Research Institute menelusuri pertanyaan itu pada 2.869 pelajar dan mahasiswa dari empat jenjang: SMP, SMA, politeknik, dan universitas. Minat mereka diukur dengan Kompas Minat Indonesia (KMI), inventori minat berbasis RIASEC yang mencatat dua hal untuk setiap tipe minat: seberapa suka seseorang pada kegiatannya (kesukaan) dan seberapa yakin ia mampu melakukannya (efikasi diri).
Diferensiasi dihitung dengan cara sederhana: skor minat tertinggi dikurangi skor minat terendah. Makin besar selisihnya, makin memuncak profilnya. Perbedaan antarkelompok lalu diuji dengan analisis varians faktorial, teknik statistik yang melihat peran gender, jenjang, dan kombinasi keduanya sekaligus, dengan koreksi Holm agar banyaknya perbandingan tidak memunculkan temuan kebetulan. Penelitian ini telah mendapat persetujuan etik dan dipresentasikan di ICPE 2026, tempat poster ini meraih penghargaan Best Poster (Bagaskara dkk., 2026).
Profil siswa perempuan lebih memuncak di semua jenjang
Temuan yang paling konsisten menyangkut gender. Di keempat jenjang, profil minat siswa perempuan lebih terdiferensiasi daripada siswa laki-laki. Pola ini muncul pada skor kesukaan, skor efikasi diri, maupun gabungan keduanya (Bagaskara dkk., 2026).
Temuan ini perlu dibaca dengan hati-hati. Yang dibandingkan adalah bentuk profil, bukan minat mana yang paling tinggi, apalagi kemampuan. Profil yang memuncak tidak berarti lebih baik, dan profil yang rata tidak berarti siswa itu bingung atau kurang matang. Studi ini juga tidak menyatakan bahwa siswa perempuan lebih mampu atau lebih siap memilih karier.
Besarnya perbedaan pun kecil. Ukuran efek gender (η²p) berada di kisaran .026 sampai .037. Secara kasar, gender hanya berkaitan dengan sekitar 3 persen variasi skor diferensiasi antarsiswa; sebagian besar perbedaan berkaitan dengan hal-hal lain. Dalam praktik, banyak siswa laki-laki punya profil yang tajam dan banyak siswa perempuan punya profil yang rata. Pola kelompok tidak bisa dipakai untuk menebak profil satu orang.
Paling tajam di bangku SMA
Awalnya tim menduga diferensiasi akan naik seiring jenjang: makin tinggi pendidikan, makin jelas minatnya. Data tidak mendukung dugaan itu. Profil paling terdiferensiasi justru ditemukan pada siswa SMA, sementara mahasiswa politeknik menunjukkan profil paling datar. Diferensiasi tidak naik lurus mengikuti jenjang (Bagaskara dkk., 2026). Efek jenjang ini juga kecil (η²p .022–.023), kira-kira 2 persen variasi.
Mengapa SMA? Salah satu kemungkinan: di SMA, pilihan jurusan kuliah sudah di depan mata. Siswa sedang aktif mencari tahu apa yang ia suka dan tidak suka, sehingga minatnya tampak paling tajam. Tim juga menduga, setelah masuk kuliah dan tekanan memilih mereda, profil bisa kembali lebih datar. Keduanya masih dugaan. Karena setiap siswa hanya diukur sekali, studi ini belum bisa menunjukkan bagaimana minat seseorang berubah dari SMP sampai kuliah.
Ada juga temuan tentang kombinasi gender dan jenjang. Jarak antara siswa perempuan dan laki-laki paling sempit di politeknik. Namun efek kombinasi ini sangat kecil (η²p .004–.005, di bawah 1 persen variasi), dan sampel politeknik sangat timpang jumlah laki-laki dan perempuannya, sehingga pola ini perlu dibaca hati-hati.
Bagi tim, gambaran ini mengisyaratkan bahwa kejelasan minat lebih terkait dengan situasi dan konteks yang sedang dihadapi siswa daripada sekadar bertambah seiring usia atau jenjang.
Baca bentuk profil, jangan berhenti di tiga huruf teratas
Bagi guru BK, konselor, dan psikolog pendidikan, tiga kode teratas tetap informasi penting. Tetapi bobotnya bergantung pada seberapa jauh kode-kode itu menonjol dari sisanya. Pada profil yang memuncak, tiga huruf teratas cukup kuat dijadikan titik awal diskusi jurusan. Pada profil yang rata, urutan itu bisa berubah hanya karena satu atau dua jawaban.
Profil datar sebaiknya diperlakukan sebagai bahan percakapan, bukan kesimpulan. Ajak siswa membicarakan kegiatan yang benar-benar ia nikmati, pengalaman yang membuatnya merasa mampu, dan pertimbangan lain di luar tes. Format jawaban berskala, seperti pilihan "sangat tidak suka" sampai "sangat suka", juga memungkinkan beberapa tipe minat mendapat skor hampir sama atau bahkan seri, dan ini bisa ikut membuat profil tampak rata. Karena itu, laporan asesmen minat akan lebih membantu bila tidak hanya menampilkan tiga huruf, tetapi juga menunjukkan seberapa tajam puncaknya.
Bagi orang tua dan siswa, profil datar bukan tanda ada yang salah. Minat bisa masih bergerak, terutama ketika pengalaman mencoba berbagai bidang belum banyak. Dari diskusi tim muncul satu refleksi: eksplorasi karier mungkin perlu dimulai sejak SMP, supaya siswa tidak baru berkenalan dengan minatnya ketika harus memilih jurusan di SMA. Refleksi ini masih perlu diuji, tetapi sejalan dengan temuan bahwa minat paling tajam muncul ketika keputusan sudah dekat.
Batas temuan dan langkah berikutnya
Ada tiga batasan yang perlu diingat. Pertama, desainnya potong lintang: setiap siswa diukur sekali, sehingga perbedaan antarjenjang adalah perbedaan antarkelompok, bukan perubahan pada orang yang sama. Kedua, jumlah peserta di setiap kelompok tidak seimbang. Ketiga, sampel politeknik sangat timpang gender, sehingga kesimpulan tentang kelompok ini paling terbatas (Bagaskara dkk., 2026).
Beberapa arah riset sedang dipertimbangkan. Studi longitudinal yang mengikuti siswa yang sama dari waktu ke waktu dibutuhkan untuk menjawab apakah minat benar-benar menajam menjelang pilihan jurusan. Tim juga ingin menguji apakah tugas mengurutkan minat membantu memperjelas prioritas, terutama bagi siswa dengan profil datar. Ide lain yang didiskusikan adalah memakai skor diferensiasi sebagai informasi tentang seberapa lazim profil seseorang dibanding kelompoknya, serta studi kualitatif pada siswa dengan profil yang sangat memuncak atau sangat rata. Semua ini masih rencana penelitian.
Tanyakan juga: seberapa tajam puncaknya?
Hasil tes minat sering diringkas menjadi tiga huruf karena praktis. Studi ini mengingatkan bahwa dua siswa dengan huruf yang sama bisa membawa cerita yang berbeda. Lain kali membaca hasil tes minat, sebagai guru BK, konselor, psikolog, orang tua, atau siswa sendiri, tanyakan satu hal tambahan: seberapa tajam puncaknya? Jawabannya membantu menentukan apakah percakapan berikutnya tentang memilih jurusan, atau tentang mengenal minat lebih dalam.
Kami terbuka berdiskusi dengan sekolah, guru BK, kampus, dan peneliti yang ingin mengembangkan riset minat karier bersama.
Rujukan
- Bagaskara, R. S., Putri, D. D., & Kartaputra, A. (2026). Gender and educational-level differences in vocational interest differentiation among Indonesian students [Poster, Best Poster]. The 5th International Conference on Psychology and Education (ICPE) 2026, Universitas Negeri Surabaya.
Lanjutkan percakapannya.
Punya pertanyaan dari praktik yang berkaitan dengan tulisan ini? Ceritakan kepada kami.
Kirim pesan




